LTA Tri nurbaiti
ASUHAN KEBIDANAN WANITA USIA SUBUR PADA NY. T UMUR 31
TAHUN DENGAN FLOUR ALBUS DENGAN
PENATALAKSANAAN JUS ANANAS COMOSUS
DI BPM BIDAN LIA MARIA Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2021
LAPORAN TUGAS AKHIR

OLEH
TRI NURBAITI
201813065
PRODI DIII
KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ADILA
ASUHAN KEBIDANAN WANITA USIA SUBUR PADA NY. T UMUR 31
TAHUN DENGAN FLOUR ALBUS DENGAN
PENATALAKSANAAN JUS ANANAS COMOSUS
DI BPM BIDAN LIA MARIA Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2021
LAPORAN TUGAS AKHIR
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan
pendidikan Ahli Madya Kebidanan pada Program Studi DIII Kebidanan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Adila
OLEH
TRI NURBAITI
NIM.
201813065
PRODI DIII
KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU
KESEHATAN ADILA
TAHUN 2021
RIWAYAT HIDUP
A.
Identitas
Diri
Nama :
Tri Nurbaiti
Tempat, Tanggal Lahir :
Jatimulyo, 23 November 2000
Agama :
Islam
Alamat
: Desa Margadadi, Kec. Jati Agung, Kab. XLampung selatan
No. Telpon :
085266336594
Email :
etikeccew@gmail.com
B.
Riwayat
Pendidikan
1.
SDN
3 Margadadi (2012)
2.
SMPN
2 Jati Agung (2015)
3.
SMAN
1 Jati Agung (2018)
4. Saat ini penulis sedang mengikuti
pendidikan semester VI Program Studi DIII Kebidanan STIKes Adila di Kota Bandar Lampung Tahun
2020/2021.
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, atas semua berkat dan rahmatNya sehingga dapat
terselesaikannya Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Asuhan Kebidanan Wanita Usia Subur Pada Ny. T Umur 31
Tahun dengan Fluor Albus dengan Penatalaksanaan Jus Ananas Comosus di BPM Bidan Lia Maria Amd.Keb Bandar Lampung Tahun
2021”,
sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Ahli Madya Kebidanan pada
Program Studi DIII Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Adila.
Dalam
hal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, karena itu
pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.
Kepada
bapak, ibu, dan kakak yang sangat saya sayangi terimakasih telah memberikan doa
dan dukungan kepada saya agar dipermudah dalam penyusunan LTA ini.
2.
Ibu Sutriningsih, S.ST.,M.Keb selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Adila, yang telah memberikan kesempatan menyusun Laporan Tugas Akhir ini.
3.
Ibu
Yuhelva Destri, SKM.,M.Kes selaku Ketua Program Studi
Kebidanan STIKes Adila yang telah memberikan kesempatan menyusun LTA ini.
4.
Ibu Oktaria Safitri, S.ST.,M.Kes,
selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan sehingga tugas akhir ini
dapat terselesaikan.
5.
Ibu Lia Maria Amd.Keb yang telah memberikan
kesempatan untuk melakukan penyusunan LTA di BPM.
6.
Ibu-ibu responden atas kerjasamanya yang
baik
7.
Kepada
Melinia Three Putri Yama MS (Puput) selaku sahabat saya, saya ucapkan
terimakasih sebanyak – banyaknya karena sudah banyak membantu dan memberi
support untuk penyusunan LTA ini.
8.
Rekan seangkatan dan pihak-pihak yang
terkait dan banyak membantu dalam ini.
Semoga
Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan pahala atas segala amal baik yang telah
diberikan dan semoga karya tulis ilmiah ini berguna bagi semua pihak yang
memanfaatkan.
Bandar Lampung, 04 Juni 2021
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
LEMBAR
PERSETUJUAN ii
LEMBAR
PENGESAHAN iii
LEMBAR
PERNYATAAN iv
RIWAYAT HIDUP v
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR
LAMPIRAN xii
DAFTAR
SINGKATAN xiii
BAB I
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan Penelitian 4
D. Manfaat Penelitian 5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 7
A. Konsep Dasar 7
1.
Wanita
Usia Subur (WUS) 7
2.
Intrauterine Device (IUD) 16
3.
Flour Albus 21
4.
Nanas
(Ananas Comosus) 28
B. Konsep Asuhan Kebidanan Wanita Usia Subur 30
C. Alur Pikir 32
BAB III METODE
LAPORAN TUGAS AKHIR 33
A. Jenis Laporan 33
B. Subjek Penelitian 33
C. Tempat dan Waktu Penelitian 34
D. Jenis Data 34
E. Teknik Pengambilan Data 35
F. Analisis Data 36
G. Jadwal Pelaksanaan 36
BAB IV ASUHAN KEBIDANAN DAN PEMBAHASAN 37
A. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan 37
B. Pembahasan 48
BAB V PENUTUP 65
A. Simpulan 65
B. Saran 66
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
3.1 Tabel Jadwal Pelaksanaan 36
4.1 Tabel Matriks WUS 45
DAFTAR GAMBAR
2.1 Gambar Intrauterine Device
(IUD) 16
2.2 Gambar Flour Albus 21
2.3 Gambar Nanas (Ananas Comosus) 28
DAFTAR LAMPIRAN
Tabel konsul 71
DAFTAR
SINGKATAN
WHO :
World Health Organization
WUS :
Wanita Usia Subur
IUD :
Intrauterine Device
KB :
Keluarga Berencana
PCOS :
Poly Cycstic Ovarian Syndrome
BBLR :
Berat Bayi Lahir Rendah
HPV :
Human Papilloma Virus
PMS :
Penyakit Menular Seksual
AKDR :
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
ISPA :
Infeksi Saluran Pernapasan Atas
IMT :
Indeks Massa Tubuh
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kesehatan yang terjaga berawal dari
menjaga kebersihan. Kesehatan reproduksi merupakan unsur terpenting dalam
kesehatan umum, baik pada perempuan ataupun pada laki-laki, kesehatan reproduksi juga dapat
mempengaruhi kesehatan bayi, anak, remaja dan orang yang berusia di luar masa
reproduksi. Hal ini juga berlaku bagi kesehatan organ seksual, termasuk vagina.
Vagina merupakan salah satu organ reproduksi wanita yang sangat rentan terkena
penyakit infeksi, salah satunya adalah keputihan (Rahmawati, 2017; Janah,
2013). Menurut World Health Organization (WHO) masalah kesehatan reproduksi
perempuan yang buruk mencapai 33% dari total beban penyakit yang diderita para
perempuan di dunia salah satunya adalah keputihan (Putranto, 2016 dalam
Rismawan, 2017).
Di Indonesia,
jumlah wanita yang mengalami keputihan ini sangat besar,
lebih dari 70% wanita Indonesia mengalami keputihan yang
disebabkan oleh jamur dan parasit seperti cacing kremi atau protozoa
(Trichomonas vaginalis). (Kustanti, 2016).
Keputihan (Leukore/Fluor albus)
merupakan cairan yang keluar dari vagina. Masalah keputihan adalah masalah yang
sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Data menunjukkan 75% wanita di
dunia pasti menderita keputihan, paling tidak sekali seumur hidup dan 45%
diantaranya dapat mengalami dua kali atau lebih (G.A. Marhaeni, 2017).
Keputihan yang tidak normal ialah
keputihan dengan ciri-ciri :
jumlahnya banyak, timbul terus menerus, warnanya berubah (Misalnya kuning, hijau, abu - abu,
menyerupai susu/yoghurt) disertai adanya
keluhan seperti gatal, panas, nyeri serta berbau apek dan amis. Keputihan yang
disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan
di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini
antara lain bakteri, virus, jamur, atau juga parasit. Infeksi ini dapat
menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan
rasa pedih saat si penderita buang air kencing. Pada tahapan komplikasi,
keputihan sendiri dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius seperti
infertilitas, penyakit radang panggul, infeksi saluran telur, bahkan awal
timbulnya pertumbuhan kanker mulut rahim.
Wanita usia subur merupakan masa di mana
keadaan organ reproduksi wanita berfungsi dengan baik. Puncak kesuburan ada
pada rentang usia 20 - 45 tahun, pada usia ini wanita memiliki kesempatan 95%
untuk hamil. Pada usia 30 - an pesentasenya menurun hingga 90%, sedangkan
memasuki usia 40 tahun, kesempatan hamil berkurang hingga 40%, setelah usia 40
wanita hanya punya maksimal kesempatan hamil 10%. Pada masa usia subur, wanita
sangat dianjurkan untuk merawat diri terutama personal hygiene pada bagian alat
reproduksi. Dimana dalam masa wanita subur ini harus menjaga dan
merawat kesehatan dan personal hygiene alat reproduksinya, agar tidak terjadi keputihan (Flour albus).
Jus
Ananas
Comosus (Nanas)
mempunyai efek membunuh bakteri pada kasus keputihan. Semakin tinggi
konsentrasinya, semakin besar efek anti bakteri dari jus nanas. Nanas juga
mengandung enzim bromelin yang dapat digunakan sebagai antiseptik. Cara kerja enzim bromelin adalah
menurunkan tegangan permukaan bakteri dengan cara menghidrolisis
bakteri-bakteri yang merupakan mediator bakteri melekat pada vagina yang menyebabkan keputihan.
Berdasarkan
data di BPM
Lia Maria, Amd.Keb pada bulan Mei 2021 Terdapat 30% Wanita Usia Subur yang mengalami fluor albus
termasuk Ny. T dari
seluruh jumlah wanita usia subur
yang periksa yaitu 70
orang. Salah satu klien dari BPM
Lia Maria, Amd.Keb, yaitu Ny. T yang berkunjung untuk memeriksakan dirinya karena terdapat keluhan setelah menggunakan alat
kontrasepsi IUD mengalami keputihan. Dalam kasus ini masalah keputihan
merupakan sekresi vagina dalam jumlah besar dengan konsistensi kental atau
cair, yang dimulai pada saat menggunakan alat kontrasepsi IUD. Efek
samping pemasangan alat
kontrasepsi IUD adalah perdarahan, ekspulsi, nyeri, translokasi,
infeksi, keputihan (Suratun, 2013). Keputihan adalah keluarnya cairan
selain darah dari liang vagina di luar kebiasaan. Penyebab keputihan dapat
secara normal (Fisiologis)
yang dipengaruhi oleh hormon tertentu. Cairannya berwarna putih, tidak berbau,
dan jika tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan ada
kelainan (Kusmiran, 2011).
Disini keputihan yang dilami ibu kelar cairan yang berlebih berwarna putih
kental seperti susu. Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat bisa
menyebabkan infeksi.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
di atas maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian sebagai berikut, Bagaimanakah Asuhan Kebidanan Wanita Usia Subur pada
Ny. T Umur 31 Tahun dengan Fluor Albus dengan Penatalaksanaan Jus Ananas Comosus di BPM Bidan Lia Maria
Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2021?
C. Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan
Umum
Mahasiswa bisa menerapkan Asuhan Kebidanan Wanita Usia Subur pada
Ny. T Umur 31 Tahun dengan Fluor Albus dengan Penatalaksanaan Jus Ananas Comosus di BPM Bidan Lia Maria
Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2021.
2.
Tujuan
Khusus
Pada laporan Tugas Akhir ini penulis mampu :
a. Mampu melakukan
pengumpulan data subjektif pada Ny. T Umur 31
Tahun dengan Fluor Albus dengan Penatalaksanaan Jus Ananas Comosus di BPM Bidan Lia Maria Amd.Keb Bandar Lampung Tahun
2021.
b. Mampu melakukan pengumpulan data objektif pada Ny. T Umur 31
Tahun dengan Fluor Albus dengan Penatalaksanaan Jus Ananas Comosus di BPM Bidan Lia Maria Amd.Keb Bandar Lampung Tahun
2021.
c. Mampu membuat assesment
pada Ny. T umur 31 tahun dengan Flour Albus dengan Penatalaksanaan Jus Ananas Comosus di BPM Lia Maria, Amd.Keb
Bandar Lampung tahun 2021.
d. Mampu memberikan planning asuhan yang menyeluruh pada Ny. T umur 31 dengan Flour
Albus dengan Penatalaksanaann Jus Ananas
Comosus di BPM Lia Maria, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2021.
D. Manfaat
Penelitian
1.
Teoritis
Agar tugas akhir ini dapat menambah
pengetahuan, pengalaman, dan wawasan serta bahan dalam penerapan asuhan
kebidanan pada wanita usia subur dengan penatalaksanaan fluor albus
2.
Praktis
a.
Bagi Tempat Penelitian
Agar hasil penelitian
ini dapat dijadikan acuan untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
dalam memberikan asuhan kebidanan pada wanita
usia subur yang mengalami flour
albus. Untuk tenaga
kesehatan yang berada ditempat praktik dapat dijadikan acuan dalam memberikan
ilmu yang dimiliki secara propesional.
b.
Bagi Penulis
Menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai asuhan kebidanan pada wanita usia subur dengan flour albus
serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapatkan selama perkuliahan serta
sebagai pedoman sekaligus masukan untuk lebih menigkatkan mutu pelayanan asuhan
kebidanan.
c.
Bagi pasien
Sebagai
bahan informasi mengenai pengetahuan tentang wanita usia subur sehingga pasien lebih
meningkatkan kunjungan agar tidak terjadi ketidaknyamanan seperti flour albus pada wanita
usia subur.
d.
manfaat bagi institusi dan pendidikan
Dapat dijadikan bahan bacaan serta sumber
informasi bagi mahasiswa dan staf pendidik dalam melaksanakan asuhan kebidanan
dengan baik untuk meningkatkan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa dalam
melaksanakan program pendidikan khususnya berkaitan dengan flour
albus.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Konsep
Dasar
1. Wanita
Usia Subur (WUS)
a.
Pengertian
Wanita Usia Subur (WUS)
Wanita usia subur merupakan masa di mana keadaan organ
reproduksi wanita berfungsi dengan baik. Puncak kesuburan ada pada rentang usia
20 - 45 tahun, pada usia ini wanita memiliki kesempatan 95% untuk hamil. Pada
usia 30 - an presentasenya menurun
hingga 90%, sedangkan memasuki usia 40 tahun, kesempatan hamil berkurang hingga
40%, setelah usia 40 wanita hanya punya maksimal kesempatan hamil 10%. Pada
masa usia subur, wanita sangat dianjurkan untuk merawat diri terutama personal hygiene pada bagian alat reproduksi.
b.
Batasan Usia Wanita Usia Subur
Batasan usia wanita usia subur menurut Organinasi Kesehatan Dunia
(WHO) wanita dalam usia reproduktif,
yaitu usia 14
– 49 tahun. Sementara puncak masa usia subur dan kualitas telur
terbaik wanita berada pada 20 – 30 tahun.
c.
Tanda-tanda Wanita Usia Subur
Mengetahui tanda-tanda wanita subur
antara lain :
1)
Siklus haid
a)
Wanita mempunyai siklus haid teratur
setiap bulan biasanya subur.
b)
Putaran haid dimulai dari hari pertama
keluar haid hingga sehari sebelum haid datang kembali, yang biasanya
berlangsung selama 28 hingga 30 hari.
c)
Siklus haid dapat dijadikan indikasi
pertama untuk menandai seseorang wanita subur atau tidak, siklus haid di
pengaruhi oleh hormon seks perempuan yaitu estrogen dan progesteron.
d)
Hormon estrogen dan progesteron
menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh perempuan yang dapat dilihat
melalui beberapa indikator klinis seperti suhu basal, perubahan sekresi lendir
rahim, dan indikator minor kesuburan.
2)
Alat pencatatan kesuburan
a)
Kemajuan teknologi seperti ovulation thermometer juga dapat
dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi kesuburan seseorang wanita.
b)
Thermometer ini akan mencatat perubahan
suhu badan saat wanita mengeluarkan benih atau sel telur.
c)
Bila benih keluar, biasanya thermometer
akan mencatat kenaikan suhu sebanyak 0,2 derajat celcius selama 10 hari.
3)
Tes darah
a)
Wanita yang siklus haid nya tidak
teratur, seperti datangnya haid tiga bulan sekali atau enam bulan sekali
biasanya tidak subur.
b)
Jika dalam kondisi seperti ini, beberapa tes
darah perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab dari tidak lancarnya siklus
haid.
c)
Tes darah dilakukan untuk mengetahui
kandungan hormon yang berperan pada kesuburan seorang wanita.
4)
Pemeriksaan fisik
a) Untuk
mengetahui seseorang wanita subur organ tubuh seperti buah dada, kelenjar
tiroid pada leher, dan organ reproduksi.
b) Kelenjar
tiroid yang mengeluarkan hormon tiroksin berlebihan akan mengganggu proses
pelepasan sel telur.
c) Pemeriksaan
buah dada ditujukan untuk mengetahui hormon prolaktin dimana kandungan
hormon prolaktin yang tinggi akan mengganggu proses pengeluaran sel telur.
5)
Rekam Jejak (Track record)
a)
Wanita yang pernah mengalami keguguran
baik di sengaja maupun tidan di sengaja peluang terjangkit kuman pada alat reproduksi
akan tinggi.
b)
Kuman ini menyebabkan kerusakan dan
penyumbatan saluran reproduksi.
d.
Masalah
Kesuburan pada Wanita
1)
Siklus menstruasi yang tidak teratur atau
terlambat
Siklus
menstruasi yang tidak teratur bisa disebabkan karena adanya gangguan kista
ovarium atau penyakit lainnya, kondisi stress, kecapean, serta terganggunya
keseimbangan hormon.
2) Berat
badan yang tidak seimbang
Hampir
sekitar 30 - 40 % wanita saat ini mengalami masalah kesuburan dan gangguan kehamilan.
Gangguan kesuburan tersebut biasanya disebabkan karena masalah berat badan yang tidak seimbang. terlalu gemuk atau terlalu kurus. idealnya,
berat badan sebelum hamil (Pra-hamil)
tidak melebihi atau kurang dari 10 % berat badan
normal sesuai tinggi badan. Masih
banyak wanta usia subur yang makan tidak teratur, tidak sarapan pagi dan sering
mengonsumsi junk food yang kadar
gizinya tidak seimbang. Status gizi selama masa
pra-hamil yaitu sekitar 3 - 6 bulan
sebelum berencana untuk hamil akan
berdampak terhadap bayi dilahirkan
nantinya, Terlalu
gemuk juga akan menyebabkan terganggunya keseimbangan hormon.
3) Poli Cycstic Ovary Syndrome
(PCOS) dan Endrometriosis
Masalah
ketidaksuburan pada wanita biasanya juga tinbul akibat adanya sindrom ovarium posistik atau Poli Cycstic Ovary Syndrome (PCOS) dan Endometriosis. PCOS merupakan gangguan dimana folikel (Kantung sel telur) tidak berkembang dengan baik, sehingga tidak terjadi ovuksi. Wanita
yang mengalami PCOS ini menjadi infertil (Tidak subur) karena tidak ada sel telur yang matang, sehingga tidak akan
terjadi pembuahan. Gejala yang timbul dari PCOS ini
biasanya adalah siklus haid yang tidak teratur (Terlambat, tidak haid, atau haid 2 - 3
kali dakam sebulan). Sementara
endometriosis
merupakan suatu
keadaan patologi pada sistem
repoduksi wanita dimana jaringan selaput lendir
rahim (Endometrium)
yang seharusnya berada dalam rahim, malah
tumbuh di luar rongga rahim (Saluran telur tuba falopi, indung telur, atau
pada rongga pinggul). Hal ini dapat mengganggu kesuburan wanita sehingga akan
menghambat terjadinya
kehamilan. Diperkirakan sekitar 30 - 40 % wanita
dengan keluhan
endometriosis sulit memiliki keturunan.
4) Rokok
Merokok
tidak hanya akan mengganggu kesehatan, namun juga dapat menghambat dan
meninbulkan masalah pada kesuburan. Dalam asap rokok terdapat lebih dari 4000 zat racun seperti karbon
monoksida (CO), Nitrogen oksida, sianida, ammonia, asetilen benazaldehide,
methanol, nikotin, dan lain sebagainya. Pada wanta, merokok dapat menyebabkan
penurunan produksi sel telur sehingga dapat menganggu kesuburan. Apabila perokok
wanita tersebut hamil
akan timbul berbagai masalah pada kehamikan dan bayi yang diahirkan nanti Misalnya,
perkembangan janin terhambat,
resiko keguguran kehamilan
akan semakin
meningkat, kelahiran
bayi premature dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).
5) Efek
samping obat
Setiap
obat pasti memiliki efek samping.
Pantangan konsumsi sembarang obat tidak hanya berkaku pada masa sebelum kehamilan, namun akan terus berlanjut pada masa selama kehamilan dan masa setelah persalinan yaitu masa menyusui Apabila
sakit lakukan
penyembuhan dengan cara alami, misalnya mengatasi flu dengan banyak minum,
istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi. Langkah pencegahan agar
tidak mudah sakit tentu merupakan langkah yang lebih baik dan tepat. Untuk itu, jagalah kondisi kesehatan agar tubuh selalu bugar dan siap untuk hamil.
e.
Jenis – Jenis Penyakit Kelamin Pada
Wanita Usia Subur
Masalah
kesuburan alat
repoduksi menpakan hal yang sangat penting untuk diketahui. Oleh karena itu WUS dianjurkan untuk merawat diri,
memeriksakan kesehatan, menjaga kebersihan dan tidak melakukan hubungan seks bebas serta tidak bergati-ganti
pasangan untuk mencegah penyakit
menular seksual (Mahardika, 2012).
1) Infeksi
Kelenjar Bartholini
Disebabkan
oleh
bakteri gonorea,
siapolokokus atau
streptococus. Pada pemeriksaanya
djumpai pembengkakan kelenjar,
padat, berwarna merah,
nyeri, dan panas. Pengobatan dapat dlakukan dengan insisi
yang mengurangi pembengkakan mengeluarkan isinya. Apabila sudah menahun dalam
letak kista bartholini yang diperlukan
tindakan marsupialisasi,
yaitu operasi menyembuhkan kista dalam membuka, mengeluarkan isi dan menjahit
tepi kista di irisan kulit.
2) Kondiloma Akuminata
Kondioma
akuminata adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh
HPV (Human Papilloma Virus),
dimana paing sering disebabkan HPV tipe 6 dan 11 (Jarang berpotensi menjadi keganasan).
Penyebaran virus ini melalui
penetrasi kulit yang terluka / lesi
terbuka, dimana
terdapat fase laten beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah terinfeksi (Umunya 3 bulan baru timbul gejala). Dimana sering terjadi pada daerah penis, vulva,
vagina, cervix, dan daerah sekitar anus. Seringnya penyebaran penyakit ini
disebabkan oleh berhubungan seksual bergantian pasangan dengan bebas tanpa
pengaman. Keluhan utama yang sering muncul : benjolan tidak nyeri, rasa gatal, dan biasanya lebih dari 1 lokasi dan berwarna serupa
dengan kulit (Prasetyo, 2016).
Beberapa hal yang dapat
diakukan sebagai pananganan pertama, diantaranya :
a) Hindari
berhubungan dengan bergantian pasangan
b) Hindari
berhubungan tampa pengaman
c) Periksaan
diri anda bersama dengan pasangan anda
d) Jaga
kebersihan daerah kemaluan
e) Banyak
minum air putih
f) Rajin mengganti pakaian dalam sehari 2 - 3 kali.
3)
Trikomoniasis
Trikomoniasis
adalah salah satu
dari Penyakit Menuar Seksual (PMS).
Trikomoniasis paling sering menyerang wanita, namun pria dapat terinfeksi dan
menularkan ke pasangannya lewat kontak seksual. Pada wanita tempat yang paling sering
terinfeksi adalah vagina
sedangkan pada pria tempat infeksi paing sering adalah sahıran kemih (Obi
Andareto, 2015).
Penularan
trikomoniasis terjadi tidak hanya saat melakukan kontak seksual. Seorang pengidap trikomoniasis dapat menukarkan parasite
pada orang lain
melalui pinjam
meminjam handuk dan pakaian dalam.
Untuk menghambat dan mencegah penularan
disarankan untuk menjaga kebersihan alat
vital tidak
berganti - ganti pasangan seksual serta menggunakan kondom (Obi Andareto, 2015).
4)
Sifilis
Penyaki
ini disebabkan oleh
Treponema pallidum dengan menyerang adalah seluruh organ tubuh, sehingga cairan
tubuh mengandung Treponema
palidum.
Masa inkubasinya sekitar 10 - 90 hari dan rata-rata 3 minggu. Gejalanya yaitu timbul perlukaan di tempat infeksi masuk, terdapat
infiltrat
yang mengelupas dan menimbulkan perlukaan serta pada kulit terdapat tanda radang
menbengkak dan nyeri. Upaya
preventif yaitu melakukan
pemeriksaan sebelum pernikahan.
Sifilis
dapat menimbulkan efek serius seperti kerusakan sistem
saraf, jantung, atau otak. Selain itu luka - luka
mengerikan juga bisa tercipta di kulit,
daerah sekitar
kelamin, dan bahkan seluruh
tubuh penderita
pada tingkat yang parah.
Selain
melalui
hubungan seksual, sifilis
bisa menular kepada janin oleh ibu yang menderita
penyakit ini, struktur tubuh bakteri penyebab sifilis Treponema Pallidum yang berbentuk helik memungkinkan untuk bergerak di dalam
medium kental seperti lendir
(Mucus). Dengan
demikian organisme ini dapat mengakses sistem peredaran darah dan getah bening
inang mealui jaringan dan membran mucosa. Penularan penyakit sifilis yaitu melalui hubungan seks terutama
hubungan seks bebas dan berganti -
ganti pasangan (Obi Andareto, 2015).
Gejala sifilis berkembang melalui 4 fase, diantaranya:
a) Fase
primer : sifilis akan menbentuk luka yang tidak nyeri
pada tempat terinfeksi. Bagian
tubuh yang paling sering terinfeksi adalah penis dan vagina atau vulva.
b)
Fase sekunder : sifilis mengalami ruam kulit.
c) Fase
laten : sifilis tidak memunjukan gejala sama sekali dan fase ini dapat berlangsung selama
bertahun-tahun
d) Fase
tersier : pada fase ini penderita tidak lagi menularkan penyakitnya. Gejala yang muncul bervariasi mungkin
dari yang ringan sanpai yang parah.
Fase ini terjadi 3 - 15 tahun sejak infeksi awal.
2. Intrauterine Device (IUD)
Gambar
2.1
Intrauterine Device (IUD)
a.
Pengertian
Intrauterine Device (IUD)
IUD merupakan kontrasepsi jangka
panjang yang dimasukkan ke dalam rahim yang terbuat dari plastik elastis yang
dililit tembaga atau campuran tembaga dengan perak. Lilitan logam menyebabkan reaksi anti
fertilitas dengan jangka waktu penggunaan antara dua hingga sepuluh tahun
dengan metode kerjanya mencegah masuknya spermatozoa ke dalam saluran tuba.
b.
Jenis
– Jenis Intrauterine Device (IUD)
IUD dapat dibedakan menjadi empat jenis :
1)
Copper-T
Jenis
ini berbentuk huruf T yang terbuat dari polietilen yang bagian vertikalnya
diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan tembaga ini memiliki efek anti
fertilitas yang cukup baik. Jenis ini melepaskan levonorgestrel dengan
konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian
menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak
direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan
terjadinya efek samping hormonal dan amenorrhea.
2)
Copper-7
Berbeda
dengan Copper-T, jenis IUD ini memiliki bentuk seperti angka “7” dimana
memiliki ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan dililit kawat tembaga dengan
luas permukaan 200 mm2 . Fungsi bentuk seperti angka “7” ini memudahkan dalam
pemasangan kontrasepsi.
3)
Multi Load
Jenis
Multi Load terbuat dari polietilen
dengan dua tangan, kanan dan kiri, berbentuk seperti sayap yang fleksibel.
Jenis ini memiliki panjang 3,6 cm dari atas hingga bawah dan lilitan kawat
tembaga memiliki luas permukaan 256 mm2 atau 375 mm2 . Multi Load memiliki tiga ukuran yaitu standar,
small, dan mini.
4) Lippes Loop
Merupakan
jenis yang terbuat dari polietilen berbentuk spiral atau huruf S bersambung. Lippes Loop terdiri dari empat jenis
yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya, yaitu tipe A berukuran 25
mm dengan benang berwarna biru, tipe B berukuran 27,5 mm dengan benang berwarna
hitam, tipe C berukuran 30 mm dengan benang berwarna kuning, dan tipe D berukuran
300 mm dengan benang berwarna putih dan tebal. Lippes Loop memiliki angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain
dari pemakaian jenis ini adalah apabila terjadi perforasi jarang menyebabkan
luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Jenis ini
merupakan IUD yang banyak digunakan.
c.
Kondisi
yang Tidak diperbolehkan Memakai Intrauterine
Device (IUD)
Kondisi-kondisi yang tidak
diperbolehkan menggunakan IUD antara lain kehamilan, gangguan perdarahan,
peradangan alat kelamin, kecurigaan tumor ganas pada alat kelamin, tumor jinak
rahim, kelainan bawaan rahim, peradangan pada panggul, perdarahan uterus yang
abnormal, karsinoma organ-organ panggul, malformasi panggul, mioma uteri
terutama submukosa, dismenorhea berat, stenosis kanalis servikalis, anemia
berat dan gangguan koagulasi darah, dan penyakit jantung reumatik.
d.
Efek samping penggunaan Intrauterine
Device (IUD)
Efek samping penggunaan IUD antara lain :
1)
Spotting :
keluarnya bercak-bercak darah di antara siklus menstruasi, spotting akan muncul
jika sedang kelelahan dan stress. Wanita yang aktif sering mengalami spotting
jika menggunakan kontrasepsi IUD.
2)
Perubahan siklus menstruasi : setelah pemasangan IUD, siklus
menstruasi menjadi lebih pendek. Siklus menstruasi yang muncul lebih cepat dari
siklus normal rata-rata yaitu 28 hari dengan lama haid tiga sampai tujuh hari,
biasanya siklus haid akan berubah menjadi 21 hari.
3)
Amenorhea :
tidak didapat tanda-tanda haid selama tiga bulan atau lebih. Penanganan efek
samping amenorhea adalah memeriksa apakah sedang hamil atau tidak. Apabila
tidak, berikan konseling dan menyelidiki penyebab amenorhea apabila dikehendaki
dengan posisi IUD tidak dilepas. Sedangkan apabila hamil, jelaskan dan berikan
saran untuk melepas IUD apabila benangnya terlihat dan kehamilan kurang dari 13
minggu. Jika benang tidak terlihat atau kehamilan lebih dari 13 minggu, IUD
tidak dapat dilepas. Pasien yang sedang hamil dan ingin mempertahankan
kehamilan tanpa melepas IUD maka dapat diberikan penjelasan mengenai resiko
kemungkinan terjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi, serta perkembangan
kehamilan harus lebih diamati dan diperhatikan.
4)
Dismenorhea : munculnya rasa sakit menstruasi tanpa
penyebab organik. Penanganan dismenorhea adalah memastikan dan menegaskan
adanya penyakit radang panggul (PRP) dan penyebab lain dari kram otot perut,
serta menanggulangi penyebabnya apabila ditemukan. Berikan analgesik apabila
tidak ditemukan penyebabnya untuk sedikit meringankan rasa sakit. Pasien yang
sedang mengalami kram otot perut yang berat, hendaknya melepas IUD dan membantu
pasien untuk menentukan metode kontrasepsi yang lain.
5)
Menorrhagia : perdarahan berat secara berlebihan
selama haid atau menstruasi (masa haid lebih dari delapan hari). Memastikan dan
menegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik. Apabila tidak ada
kelainan patologis, perdarahan bekelanjutan serta perdarahan hebat, maka
lakukan konseling dan pemantauan. Terapi farmakologis untuk menorrhagia dapat
menggunakan Ibuprofen untuk mengurangi perdarahan dan memberikan tablet besi.
IUD memungkinkan dilepas apabila pasien menghendaki, jika pasien telah memakai
IUD selama lebih dari tiga bulan dan diketahui menderita anemia dengan Hb <7 g/dl dianjurkan untuk melepas IUD
dan membantu memilih metode lain yang sesuai.
6)
Fluor Albus : penggunaan IUD akan memicu rekurensi vaginosis bakterial yaitu keadaan
abnormal pada ekosistem vagina yang disebabkan bertambahnya pertumbuhan flora
vagina bakteri anaerob menggantikan Lactobacillus yang mempunyai konsentrasi
tinggi sebagai flora normal vagina.
7)
Pendarahan
post seksual : pendarahan post seksual ini disebabkan karena posisi benang IUD
yang menggesek mulut rahim atau dinding
vagina
sehingga menimbulkan pendarahan, akan tetapi pendarahan yang muncul ini
jumlahnya hanya sedikit, pada beberapa kasus efek samping ini menjadi pembenar
bagi akseptor untuk melakukan drop out, terutama disebabkan dorongan yang salah
dari suami.
3.
Gambar 2.2
Flour Albus
a.
Pengertian
Flour Albus
Keputihan atau flour albus
adalah kondisi vagina saat mengeluarkan cairan atau lendir menyerupai nanah.
Keputihan tidak selamanya merupakan penyakit karena sebagian dari keputihan
masih dengan keadaan yang normal. Oleh sebab itu, keputihan dibagi menjadi dua yaitu
keputihan normal dan
abnormal.
1)
Flour albus normal (Fisiologis)
Flour albus fisiologis biasanya terjadi menjelang dan
sesudah menstruasi, mendapatkan rangsangan seksual, mengalami stress berat,
sedang hamil, atau mengalami kelelahan. Adapun cairan yang keluar berwarna jernih
atau kekuningan dan tidak berbau.
Selain
itu krputihan jenis ini juga tidak
disertai rasa gatal dan perubahan warna. Keputihan sesuatu yang wajar, sehingga
tidak diperlu tindakan medis tertentu.
2)
Flour albus abnormal (Patologis)
Berbeda dengan flour albus fisiologis, flour albus patologis bisa dikatagorikan
sebagai penyakit. Keputihan jenis ini ditandai dengan keluarnya lendir dalam
jumlah banyak. Selain itu, lendir tersebut berwarna putih atau kekuningan dan
memiliki bau yang menyengat.
Wanita yang menalami
flour albus patologis juga merasakan
gatal dan terkdang terasa nyeri. Bahkan, rasa nyeri tersebut sering kali
dirasakan ketika melakukan hubungan seksual. Daerah vagina yang terinfeksi pun
mengalami bengkak. Akibatnya, hubungan seksual menjadi terganggu.
Oleh karena itu ada
baiknya kita untuk mengetahui ciri – ciri flour
albus patologis. Berikut adalah ciri – ciri flour albus patologis ditinjau
dari warna cairannya :
a)
Keputihan
dengan cairan berwarna kuning atau keruh dan terasa nyeri ketika buang air
kecil.
b)
Keputihan
dengan cairan berwarna putih kekuningan sedikit kental menyerupai susu dan
disetai bengkak, nyeri pada bibir vagina, rasa gatal, serta nyeri ketika
berhubungan seksual.
c)
Keputihan
dengan cairan berwarna cokelat atau disertai sedikit darah dan disertai dengan
nyeri dibagian panggul.
d)
Keputihan
dengan cairan berwarna kuning atau hijau, berbusa, dan berbau sangat menyengat
disetai dengan rasa nyeri serta gatal saat buang air kecil.
e)
Keputihan
dengan berwarna pink biasanya terjadi pasca melahirkan.
f)
Keputihhan
dengan cairan berwarna abu – abu atau kuning yang disertai bau amis menyerupai
bau ikan disertai rasa panas seperti terbakar, gatal, kemerahan, dan bengkak
pada bibir vagina atau vulva.
b.
Gejala
Flour Albus
Sesuai dengan
faktor penyebabnya, gejala yang timbul akibat keputihan beraneka ragam. Cairan
yang keluar bisa saja sangat banyak, sehingga harus berkali - kali mengganti
celana dalam, bahkan menggunakan pembalut, namun dapat pula sangat sedikit.
Warna cairan yang keluar juga bisa berbeda-beda, seperti berwarna
keputih-putihan (Tetapi jernih), keabu-abuan, kehijauan, atau kekuningan.
Tingkat kekentalan cairan tersebut juga berbeda-beda, mulai dari encer,
berbuih, kental, hingga menggumpal seperti "kepala" susu. Cairan itu
dapat pula berbau busuk, meskipun ada juga cairan keputihan yang tidak berbau.
c.
Penyebab
Flour Albus
Secara
umum, keputihan bisa disebabkan oleh beberapa faktor berikut :
1)
Penggunaan
tisu yang terlalu sering untuk membersihkan organ kewanitaan. Biasanya, hal ini
dilakukan setelah buang air kecil ataupun buang air besar.
2)
Menggunakan
pakaian berbahan sintesis yang ketat, sehingga ruang tidak ada yang memadai.
Akibatnya, timbulah iritasi pada organ kewanitaan.
3)
Kurangnya
perhatian terhadap kebersihan organ kewanitaan.
4)
Seringkali
menggaruk organ kewanitaan.
5)
Efek
yang disebabkan oleh benang IUD (Intrauterine
Device).
Selain sebab –
sebab umum tersebut, risiko keputihan juga bisa dipicu oleh beberapa penyakit
kelamin yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme dan virus tertentu. Diantaranya
adalah :
1)
Penyakit
Herpes
Penyakit
herpes atau penyakit cacar adalah penyakit radang pada kulit. Penyakit ini
ditandai oleh munculnya gelembung-gelembung berisi air pada sejumlah bagian
kulit. Penyakit tersebut dapat digolongkan menjadi dua, yaitu penyakit herpes
zoster dan penyakit herpes genitalis.
2)
Infeksi
Jamur Candida albikan
Penyebab
lain dari timbulnya keputihan patologis adalah infeksi jamur Candida albikan. Jamur ini tergolong
sebagai jamur dimorfik. Hal ini tidak
terlepas dari kemampuan tumbuh kembangnya dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu
sel tunas yang berkembang menjadi blastospora (sel ragi) dan tumbuh dengan
menghasilkan kecambah yang kelak membentuk hifa semu.
3)
Infeksi
Bakteri Gardnerella vaginalis
Bakteri
Gardnerella vaginalis merupakan
bakteri anaerob batang gram-variabel. Hiperpopulasi yang dialami oleh bakteri
ini dapat menggantikan flora sebelumnya bersifat asam, menjadi basa. Hal
tersebur tidak terlepas dari menurunnya jumlah Lactobacillus. Padahal, bakteri Lactobacillus
adalah bakteri "baik" yang menghasilkan hidrogen peroksida yang
berfungsi menjaga keasaman vagina serta menghambat pertumbuhan bakteri lain
yang "jahat" dalam vagina.
4)
Penyakit
Condyloma Acuminata
Condyloma acuminata adalah kelainan pada kulit berupa munculnya kutil dengan
permukaan yang berlekuk-lekuk. Bentuk tersebut membuat penyakit ini dikenal
juga sebagai penyakit jengger ayam. Penyakit itu disebabkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) tipe 6 dan tipe
11. Biasanya, kutil-kutil tersebut menyerang alat kelamin dan area di
sekitarnya. Bahkan, kutil-kutil itu juga bisa menyebar ke anus.
5)
Infeksi
Bakteri Neisseria gonorrhoeae
Bakteri
Neisseria gonorrhoeae adalah bakteri gonokokus yang ditemukan oleh Neisseria
pada tahun 1879. Bakteri ini merupa- kan penyebab infeksi pada saluran urogenitalis. Selain itu, bak'teri
tersebut juga bisa menginfeksi uretra, leher rahim, rahim, tenggorokan, dan
bagian putih mata. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri ini dikenal sebagai
penyakit gonorrhea atau kencing
nanah, yang tergolong penyakit menular seksual.
6)
Infeksi
Parasit Thricomonas vaginalis
Thricomonas vaginalis merupakan protozoa patogen. Parasit ini hidup dalam
vagina dan uretra, baik pada laki - laki maupun wanita. Jika dilihat dengan
mikroskop, bentuk parasit itu agak oval dan memiliki flagel (Rambut getar). Fungsi flagel
tersebut adalah membantu pergerakannya. Infeksi yang ditimbulkan oleh parasit
tersebut biasanya diakibatkan oleh keadaan lingkungan hidup yang kurang bersih.
Penyakit yang ditimbulkannya dikenal dengan sebutan trikomoniasis.
7)
Infeksi
Bakteri Chlamydia
trachomatis
tiga
spesies bakteri yang tergolong genus Chlamydia. Bakteri ini pertama kali
diidentifikasi pada tahun 1907. disebabkan oleh bakteri tersebut dikenal
Infeksi yang dengan sebutan penyakit klamidia.
Penyakit ini termasuk penyakit menular seksual.
8)
Penyakit
pada Organ Kandungan
Penyakit
yang menyerang organ kandungan juga bisa menjadi salah satu penyebab keputihan
patologis. Keputihan ini dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti kanker,
tumor, dan peradangan. Keputihan yang disebabkan oleh tumor, misalnya papilloma, biasanya menyebabkan
keluarnya cairan yang encer, jernih, dan tidak berbau dari vagina.
9)
Gangguan
Keseimbangan Hormon
Salah
satu penyebab keputihan adalah terganggunya tingkat keasaman vagina, sehingga
mudah terinfeksi oleh bakteri. Untuk menjaga tingkat keasaman tersebut,
diperlukan hormon estrogen. Selain itu, keberadaan bakteri Lactobacilli doderlein dan ketebalan sel epitel skuamosa vagina juga sangat penting
untuk menangkal bakteri "jahat" yang menginfeksi vagina.
d.
Dampak
Flour Albus pada Wanita Usia Subur
Keputihan yang dampaknya sebagian besar dapat
mengakibatkan gatal-gatal disekitar alat kelamin, bau tidak sedap serta dapat
terjadi infeksi yang memicu terjadinya kanker serviks. Keputihan abnormal yang tidak
tertangani dengan baik dan dialami dalam waktu yang lama akan berdampak pada
terjadinya infeksi saluran reproduksi. Infeksi saluran reproduksi ini
mengakibatkan infertilitas.
e.
Pencegahan
dan Tindakan Flour Albus
Untuk
menghindari komplikasi yang serius dari keputihan, sebaiknya penatalaksanaan
dilakukan sedini mungkin sekaligus untuk menyingkirkan adanya penyebab lain
seperti kanker leher rahim yang juga memberikan gejala keputihan berupa sekret
encer, berwarna merah muda, adapun pencegahan sekaligus mencegah berulangnya
keputihan yaitu:
1)
Menjaga kebersihan di daerah vagina dan
sekitarnya, jangan menggunakan sabun yang terlalu keras, atau pH nya basa.
2)
Biasakan membasuh vagina dengan cara
yang benar, yaitu dengan gerakan dari depan kebelakang.
3)
Hindari suasana vagina lembab
berkepanjangan karena pemakaian celana dalam yang basah, jarang di ganti, tidak
menyerap keringat, atau memakai celana jeans terlalu ketat.
4)
Menganjurkan
ibu untuk meminum jus nanas
4. Nanas
(Ananas Comosus)
Gambar
2.3
Ananas Comosus
a.
Pengertian
nanas (Ananas Comosus)
Nanas
(Ananas Comosus)
adalah sejenis tumbuhan tropis yang berasal dari Brazil, Bolivia dan Paraguay.
Tumbuhan ini termasuk dalam familia nanas-nanasan (Famili Bromeliaceae). Nanas
(Ananas comosus) yaitu tanaman tropis
yang merupakan keluarga dari bromeliaceae, pada bidang medis telah digunakan
karena memiliki kandungan enzim kompleks yang dapat mengobati berbagai kondisi
patologis. Daun, buah, bonggol, batang, dan akar nanas mengandung enzim
bromelain, saponin, flavonoid, dan tanin.
b.
Kandungan
Kimia Nanas (Ananas Comosus)
Nanas
(Ananas Comosus
L.merr) mempunyai efek sebagai anti bakteri, baik menghambat (Bakteriostatic) maupun membunuh
(bactericidal). Konsentrasi minimal jus nanas yang masih dapat menghambat
bakteri adalah 25%, sedangkan pada konsentrasi 100% jus nanas mempunyai efek
membunuh bakteri pada kasus keputihan. Semakin tinggi konsentrasinya, semakin
besar efek anti bakteri dari jus nanas. Nanas juga mengandung enzim bromelin
yang dapat digunakan sebagai antiseptic. Cara kerja enzim bromelin adalah
menurunkan tegangan permukaan bakteri dengan cara menghidrolisis
bakteri-bakteri yang merupakan mediator bakteri melekat pada organorang vagina
yang menyebabkan keputihan.
c.
Manfaat
dan Khasiat Nanas (Ananas Comosus)
Manfaat dan khasiat
nanas antara lain, yaitu :
1)
Buah
nanas berkhasiat mengobati radang karena kandungan enzim bromelin yang bersifat
antiradang. Enzim bromelin juga berguna untuk membantu pencernaan. Enzim
bromelin mencerna protein di dalam makanan dan menyiapkannya agar mudah diserap
tubuh.
2)
Zat
valine dan leucine yang terdapat di dalam nanas dibutuhkan oleh tubuh untuk
pertumbuhan dan memperbaiki jaringan otot. Zat ini termasuk salah satu zat
esensial yang diperlukan untuk mempertahankan kadar energi tubuh.
3)
Kandungan
cystine dalam nanas berguna untuk
pembentukan kulit dan rambut serta memperlambat proses penuaan dini.
4)
Buah
nanas berkhasiat menyembuhkan sembelit, atritis, dan trauma.
5)
Meningkatkan
sistem kekebalan tubuh, mencegah penyakit kanker, penyembuhan luka,
meningkatkan kesehatan pada usus, asupan gizi yang baik bagi wanita dan dapat
mengurangi keputihan.
6)
Buah
nanas berkhasiat membantu pemecah protein dalam lemak, menyembuhkan gangguan
ISPA dan antitumor.
d.
Cara
Pengolahan Jus Ananas Comosus
Buah Ananas
Comosus dapat dikonsumsi menjadi jus untuk mengurangi
keputihan dan dikonsumsi secara teratur 1 kali sehari selama 2 minggu dangan
100 gram daging buah ananas
comosus dan bonggolnya dengan ditambahkan air 50 ml. Cara mengolah : siapkan 100 gram nanas yang telah masak dikupas, dicuci
bersih, lalu di blender. Sewaktu memblender tambahkan air sedikit demi sedikit
hingga 50 ml. Jus siap di minum 1 kali
sehari dalam 2 minggu.
B.
Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada Wanita Usia Subur
Langkah-langkah asuhan
kebidanan pada wanita usia suubur dalam bentuk SOAP sebagai berikut
S : Data
subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil
pengumpulan data klien melalui anamnesis antara lain tanggal, tahun, waktu,
biodata, riwayat, termasuk kondisi klien.
O : Data
objektif
Menggabarkan
pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui pengamatan dan terukur,
pemeriksaan fisik klien didapatkan melalui inspeksi, palpasi, prkusi dan
auskultasi, termasuk dat penunjang. Data ini memberikan bukti gejala klinis
klien dan fakta yang berhubungan dengan diagnosis.
A : Assesment
Menggambarkan
pendokumentasian hasil analisi, diagnosi dan masalah kebidanan.
P : Planning
Mencatat seluruh
perencanaan dan penatalaksanaan yang telah dilakukan, misalnya tindakan
antispatif, tindakan segera, tinakan secara komprehensif, penyuluhan, dukungan,
kolaborasi, evaluasi / follow up
dan rujukan. Dokumentasi menunjukan perencanaan yang tepat. (Astuti dkk, 2016).
C. Alur
Pikir
Flour albus Penyebab Efek samping
penggunaan KB IUD (Intrauterine
Device) Penanganan Mengajarkan Personal Hygiene Menganjurkan
menggunakan celana dalam berbahan katun Menganjurkan ibu untuk meminum jus ananas comosus Masalah teratasi
BAB III
METODE LAPORAN TUGAS AKHIR
A. Jenis
Laporan
Jenis laporan kasus
yang digunakan adalah laporan deskriptif dengan pendekatan studi kasus/case study (Studi penelaahan kasus). Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti
suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit
tunggal disini dapat berarti satu orang, sekelompok penduduk terkena suatu
masalah misalnya keracunan. Unit yang menjadi kasus tersebut secara mendalam
dianalisis baik dari segi yang berhubungan dengan kasus itu sendiri, dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian-kejadian khusus yang muncul sehubungan
dengan kasus maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu perlakuan atas
pemaparan tertentu (Notoatmodjo, 2014).
Laporan tugas akhir ini
menggunakan jenis laporan case study
(Studi penelaahan
kasus), karena
dalam laporan tugas akhir ini hanya meniliti suatu kasus yang terdiri dari unit
tunggal yaitu terhadap ibu Ny. T
dengan fluor albus dan
dianalisis secara mendalam dari segi yang berhubungan dengan fluor
albus.
B.
Subjek penelitian
Subjek
(Responden) adalah
orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri (Sugiyono, 2017).
Subjek laporan
kasus pada laporan tugas akhir ini adalah Ny. T dengan penatalaksanaan Fluor
Albus.
C.
Tempat
dan Waktu Penelitian
Tempat
penelitian merupakan rencana tempat atau lokasi yang akan dilakukan oleh
peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitiannya. Lokasi penelitian ini
sekaligus membatasi ruang lingkup penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2014).
Lokasi
dalam penelitian ini yaitu di Rumah Ny. T,
Gg. Delima 2 Harapan Jaya, Kec. Sukarame, Kota Bandar Lampung,
Lampung. Asuhan akan dilaksanakan pada tanggal 03 Mei sampai 17 Mei 2021.
D.
Jenis
Data
1.
Data Primer
Data
primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data
(Sugiyono, 2017).
Data
pada laporan ini didapatkan dari wawancara, anamnesa dan observasi langsung
kepada Ny. T dengan menggunakan pedoman yaitu berupa
format askeb yang sudah disediakan.
2.
Data Sekunder
Data
sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul
data.
Data
sekunder pada laporan ini di dapatkan dari studi kepustakaan yang berasal dari pustakan
jurnal dan buku.
E.
Teknik
Pengambilan
Data
1.
Wawancara
Wawancara
adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti
mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang sasaran
penelitian (Responden),
atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (Face to face). (Notoatmodjo, 2014).
Dalam
laporan tugas akhir ini peneliti melakukan wawancara terpimpin kepada Ny. T dengan menggunakan pedoman yaitu berupa
format askeb yang sudah disediakan, untuk mendapatkan data subjektif
2.
Observasi
Observasi
adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.
Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan
(Sugiyono, 2017).
Dalam
laporan tugas akhir ini peneliti melakukan observasi dengan cara setiap
melakukan pemeriksaan dilakukan secara sistematis (Head to toe)
sesuai dengan format asuhan kebidanan.
F.
Analisis data
Analisis data adalah data yang telah diolah baik
pengelohan data secara manual maupun menggunakan bantuan komputer, tidak akan
ada maknanya tanpa di analisis. Menganalisis data tidak sekedar
mendeskripsikan dan menginterprestasikan data yang telah diolah.analisis data
dilakukan secara deskriptif menggunakan prinsip-prinsip manajemen asuhan
kebidanan dengan menggunakan SOAP (terlampir).
G.
Jadwal
pelaksanaan
Tabel 3.1
Jadwal Pelaksanaan
|
NO |
KEGIATAN |
WAKTU |
|
|
Mei |
Juni |
||
|
1 |
Pengkajian
data paisen |
|
|
|
2 |
Melakukan
asuhan kebidanan |
|
|
|
3 |
Penyusunan
laporan tugas akhir |
|
|
|
4 |
Menyerahkan
laporan tugas akhir |
|
|
|
5 |
Ujian
laporan Hasil |
|
|
BAB
IV
ASUHAN
KEBIDANAN DAN PEMBAHASAN
A.
Pendokumentasian
Asuhan Kebidanan
ASUHAN
KEBIDANAN PADA WANITA USIA SUBUR
NY T
UMUR 31
TAHUN DENGAN FLOUR ALBUS DI BPM LIA
MARIA Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2021
Pengkajian Oleh : Tri Nurbaiti
Tanggal Pengkajian : 03 Mei 2021
Jam pengkajian : 10.30 WIB
1.
Data
Subyektif
a. Biodata
Istri Suami
Nama : Ny T Tn A
Umur : 31
Tahun 35 Tahun
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : IRT Wiraswasta
Suku : Jawa Jawa
Alamat : Gg. Delima 2 Harapan Jaya, Kec. Sukarame, Kota Bandar Lampung,
Lampung.
b. Keluhan
Utama : Ibu mengatakan pada kemaluannya keluar lendir putih kental seperti susu
dalam jumlah yang cukup banyak sejak 5 hari yang lalu.
c. Riwayat
Menstruasi : Siklus 29 hari,
tidak ada keluhan
d. Riwayat
Perkawinan : Menikah, satu kali
e. Riwayat
Kehamilan, Persalinan, Nifas dan KB yang lalu
|
|
No |
Kehamilan Persalinan |
Nifas |
KB |
||||
|
Kehamilan |
UK |
Riwayat
persalinan |
Penyulit Persalinan |
JK |
Komplikasi |
Usia sekarang |
Alkon |
|
|
1 |
38 |
Normal |
Tidak ada |
L |
Tidak ada |
3 tahun |
IUD |
|
f. Riwayat
Kesehatan
1) Riwayat
Kesehatan sekarang
Penyakit Menular (TBC, Hepatitis,
HIV/AIDS) : Tidak Ada
Penyakit Menurun (DM, Hipertensi,
Jantung) : Tidak ada
Alergi Obat : Tidak ada
2) Riwayat
Kesehatan yang Lalu
Penyakit Menular (TBC, Hepatitis,
HIV/AIDS) : Tidak Ada
Penyakit Menurun (DM, Hipertensi,
Jantung) : Tidak ada
3) Riwayat
Kesehatan Keluarga
Penyakit Menular (TBC, Hepatitis,
HIV/AIDS) : Tidak Ada
Penyakit Menurun (DM, Hipertensi,
Jantung) : Tidak ada
g. Pola
Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
1) Nutrisi
Makan
Menu : Nasi putih, Sayuran dan lauk pauk
Frekuensi : 3
kali per hari
Jumlah per hari : 1 porsi piring penuh dilengkapi
lauk pauk
Pantangan : Tidak ada
Minum
Jumlah : 7
Gelas per hari
Jenis : Air mineral
2) Pola
Istirahat
Siang : 1 jam per hari
Malam : 7 Jam per hari
3) Aktivitas
Sehari-hari : Ibu Rumah Tangga
4) Personal
Hygiene
Mandi : 2 kali per hari
Keramas : 2 kali per hari
Ganti Baju : 2 kali per hari
Ganti Celana Dalam : 3 kali per hari
Kebersihan kuku : Bersih
5) Aktivitas
Seksual
Gangguan : Tidak ada
2.
Data
Objektif
a. Pemeriksaan
Umum
1) Keadaan
Umum : Baik
2) Kesadaran : Composmentis
3) TTV
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 70
kali per menit
Respirasi : 19 kali per menit
Suhu : 36,5oC
4) TB : 160 cm
5) BB : 55
6) LILA : 24,5 cm
b. Pemeriksaan
Fisik
1) Kepala : Rambut tidak rontok, kulit kepala
bersih
2) Muka : Simetris, tidak odem, terdapat
coloasma
3) Mata : Simetris, bersih, an anemis,
an ikterik
4) Hidung : Simetris, bersih,
tidak ada gangguan pernafasan
5) Mulut : Simetris, bibir lembab, tidak
terjadi perdarahan
6) Telinga : Simetris, Bersih, tidak ada
gangguan pendengaran
7) Leher : Tidak ada pembengkakan limfe,
TVJ dan tyroid
8) Dada : Payudara simetris, bersih,
tidak ada benjolan
9) Abdomen : Terjadi
pembesaran. Terdapat linea nigra dan striae, tidak ada luka bekas operasi
10) Ano
genetalia
Kebersihan : Bersih
Pengeluaran per vaginam : Terdapat
pengeluaran cairan kental
berwarna putih cukup banyak.
Tanda-tanda infeksi : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Oedema : Tidak ada
Kelenjar Bartholini : Tidak terjadi pembengkakan
11) Anus : Tidak
ada Hemoroid
12) Ekstremitas
Atas : Tidak odem
Bawah : Tidak odem, tidak ada varices, terdapat reflek patella
c. Pemeriksaan
Penunjang
1) Hemoglobin : 12,0 gr/dL
2) Golongan
darah : A
3.
Assesment
Diagnosa
Ibu : Ny T umur 31 tahun P1A0 akseptor KB IUD
Masalah : ibu mengatakan pada kemaluannya keluar lendir berwarna
putih kental seperti susu dalam jumlah cukup banyak sejak 5 hari yang lalu
Kebutuhan : Penanganan flour albus dan
menganjurkan ibu untuk meminum jus ananas
comosus
4.
Planing
a. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan, yaitu :
TTV
Tekanan
Darah :120/70mmHg Nadi
: 70 kali per menit
Respirasi :19 kali per menit Suhu : 36,5oC
Terjadi
pengeluaran per vaginam, yaitu cairan berwarna putih kental seperti susu dan
jumlah cukup banyak
Ibu
sudah mengerti hasil pemeriksan
b.
Berikan
pengertian tentang flour albus serta
penyebabnya
Memberitahu pada ibu tentang pengertian keputihan serta
penyebab keputihan. Keputihan atau flour albus
adalah kondisi vagina saat mengeluarkan cairan atau lendir menyerupai nanah yang berlebih. Penyebabnya antara lain : Penggunaan tisu
yang terlalu sering untuk membersihkan organ kewanitaan. Biasanya, hal ini
dilakukan setelah buang air kecil ataupun buang air besar. Menggunakan pakaian
berbahan sintesis yang ketat, sehingga ruang tidak ada yang memadai. Akibatnya,
timbulah iritasi pada organ kewanitaan. Kurangnya perhatian terhadap kebersihan
organ kewanitaan.Seringkali menggaruk organ kewanitaan, dan efek yang
disebabkan oleh benang IUD (Intrauterine Device).
Ibu sudah mengerti penjelasan tentang flour albus serta penyebabnya
c.
Berikan
penanganan flour albus yang benar
Memberitahu
pada ibu tentang personal hygiene yang benar dengan cara : Menjaga
kebersihan di daerah vagina dan sekitarnya, jangan menggunakan sabun yang
terlalu keras, atau pH nya basa. Biasakan membasuh vagina dengan cara yang
benar, yaitu dengan gerakan dari depan kebelakang. Hindari suasana vagina lembab
berkepanjangan karena pemakaian celana dalam yang basah, jarang di ganti, tidak
menyerap keringat, atau memakai celana jeans terlalu ketat. Menganjurkan ibu untuk meminum jus nanas.
Ibu
sudah mengerti cara penanganan flour
albus yang benar
d.
Berikan
penjelasan pada ibu tentang kondisi IUD yang dipakainya
Memberitahu
kepada ibu tentang kondisi IUD yang dipakainya masih dalam keadaan baik.
Ibu
sudah mengerti kondisi IUD
e.
Anjurkan
ibu untuk meminum jus ananas comosus
Buah
ananas comosus dapat dikonsumsi menjadi jus untuk
mengurangi keputihan dan dikonsumsi secara teratur 1 kali sehari selama 2
minggu dangan 100 gram
daging buah ananas comosus dan bonggolnya dengan
ditambahkan air 50 ml. Cara mengolah : siapkan 100 gram nanas yang telah masak
dikupas, dicuci bersih, lalu di blender. Sewaktu memblender tambahkan air
sedikit demi sedikit hingga 50 ml. jus
siap di minum 1 kali sehari dalam 2 minggu.
Ibu sudah bersedia untuk minum jus ananas comosus.
f.
Anjurkan
kunjungan ulang setelah 2 minggu meminum jus ananas comosus, untuk mengetahui perkembangan dalam mengurangi
gejala flour albus yang ibu alami.
Ibu bersedia
kunjungan ulang
4.1 Tabel Matriks WUS
MATRIKS
WUS
II
|
Tgl/
Jam Kunjungan |
Data
Subjektif |
Data
Objektif |
Assesment |
Planning |
|
17 Mei 2021 |
1.
Ibu mengatakan cairan keputihan
masih sedikit kental berwarna
putih seperti susu 2.
Ibu mengatakan cairan flour albus sudah berkurang. |
1. Pemeriksaan
umum Keadaan umum: baik Kesadaran: Composmetis Keadaan emosional: stabil 2. Pemeriksaan TTV Teknanan darah : 120/70 mmHg Pernapasan:
19x/
menit Nadi: 70x/ menit Suhu: 36,5oC 3. Pemerikisaan
pada genetalia : Terdapat pengeluaran cairan dan tidak berbau, dalam pemeriksaan IUD dalam kodisi
baik.
|
Diagnosa : Ny. T umur 31 tahun akseptor KB IUD. Masalah :
flour albus Penanganan :
meminum jus ananas comosus |
1. Evaluasi hasil pemeriksaan Mengevaluasi kembali
pada ibu hasil pemeriksaan yaitu masih
keluar cairan pervaginam tetapi sudah berkurang dari hari pertama kunjungan. Ibu sudah mengerti
dan ibu sangat senang dengan hasil pemeriksaan. 2. Evaluasi ibu untuk tetap meminum jus nanas Mengevaluasi kembali
pada ibu untuk tetap mempertahankan untuk meminum jus nanas. Ibu bersedia meminum jus nanas 3. Evaluasi pada ibu tentang kunjungan ulang Mengevaluasi kembali
pada ibu tentang jadwal kunjungan ulang 1 minggu berikutnya atau saat
ada keluhan. Ibu bersedia kunjungan ulang. |
B.
Pembahasan
Pada pembahasan Laporan Tugas Akhir ini,
penulis menyajikan pembahasan yang membandingkan antara teori dan praktik,
untuk pengumpulan data dasar tentang keadaan pasien pada Ny. T umur 31 Tahun Akseptor KB IUD. Di BPM Lia Maria, Amd.Keb Bandar Lampung, yang dilakukan pada tanggal 03 Mei 2021.
Didapatkan hasil sebagai berikut.
1.
Data
Subjektif
1)
Nama
a) Menurut
tinjauan teori
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama
panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan (Susanto, 2018)
b) Menurut tinjauan
kasus
Setelah
dilakukan pengkajian pada wanita usia subur, ibu
bernama Ny. T
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus
tidak terdapat kesenjangan, karena nama pasien dikaji dengan jelas dan lengkap
sesuai dengan teori yaitu agar tidak keliru dalam memberikan penanganan pada
pasien
2)
Umur
a) Tinjauan
teori
Semua wanita mengalami Flour Albus pada
masa-masa tertentu, baik karena efek
KB IUD,
sebelum haid/mentruasi, sesudah haid/mentruasi, masa nifas (sehabis
melahirkan), sedang subur (kurang dari 2 minggu belum haid/menstruasi yang akan
datang), dan sehabis bersenggamas. Flour Albus
dianggap penyakit atau kelainan jika keluar terus-menerus, juga berwarna,
berbau dan gatal.
b) Tinjauan
kasus
Usia
Ny. T adalah 31 tahun.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus tersebut,
tidak terdapat kesenjangan karena peneliti telah melakukan anamnesa sehingga
bidan mengetahui usia klien adalah 31 tahun.
Hal ini dikaji untuk menentukan apakah ibu dalam keadaan beresiko karena usia
atau tidak.
3)
Agama
a) Tinjauan
Teori
Gunanya untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau mengarahkan
pasien dalam berdoa (Susanto, 2018).
b) Tinjauan
Kasus
Agama Ny. T adalah Islam
c)
Pembahasan
Berdasarkan
tinjauan teori dan
tinjauan kasus tidak
terjadi kesenjangan, karena Ny. T beragama islam dan Ny. T berdoa sesuai dengan kepercayaan yang dianut
4) Suku
a) Tinjauan
Teori
Berpengaruh pada adat
istiadat atau kebiasaan sehari-hari (Susanto, 2018).
b) Tinjauan
Kasus
Suku Ny T Jawa
c)
Pembahasan
Berdasarkan
tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena adat yang ada di dalam keluarga tersebut tidak
mempengaruhi kesehatan Ny. T
5)
Pendidikan
a)
Menurut Tinjauan Teori
Berpengaruh dalam tindakan
kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektual, sehingga bidan
dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikan (Susanto, 2018).
b)
Menurut tinjauan kasus
Dalam kasus ini pendidikan Ny.
T adalah SMA
c)
Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan
teori dengan tinjauan kasus karena Ny. T pendidikan
terakhirnya adalah jenjang SMA dan ibu
dapat menerima dan mengerti informasi dengan baik.
6)
Pekerjaan
a) Tinjauan
teori
Gunanya
untuk mengetahui dan mengukur tingkatan sosial ekonominya, Karena ini
mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut (Susanto, 2018).
b) Tinjauan
kasus
Ny.T bekerja
sebagai ibu rumah tangga dan melakukan pekerjaan seperti mencuci piring, memasak, mencuci baju dan menyapu dan Tn. A bekerja
sebagai wiraswasta.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus
tersebut, tidak terdapat kesenjangan karena peneliti telah melakukan anamnesa sehingga
mengetahui bahwa Ny. T bekerja
sebagai ibu rumah tangga, dan
Tn. A bekerja
sebagai wiraswasta sehingga
dapat menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola sosialisasi, dan data
pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih selama asuhan.
7)
Alamat
a) Tinjauan
teori
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah
bila diperlukan (Susanto, 2018).
b) Tinjauan
kasus
Alamat Ny.T adalah Gg. Delima 2 Harapan Jaya, Kec. Sukarame, Kota Bandar Lampung,
Lampung.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus tersebut,
tidak terdapat kesenjangan karena peneliti telah melakukan anamnesa sehingga
mengetahui bahwa Ny.T
memiliki alamat yang lengkap sehingga telah diketahui jarak dan waktu yang
ditempuh pasien menuju lokasi fasilitas
pelayanan kesehatan.
8)
Keluhan
utama
a) Tinjauan
teori
Tanda dan gejala Fluor Albus dikatakan patologis (abnormal) bila diikuti dengan
perubahan bau dan warna yang menunjukkan tanda-tanda tidak normal. Pada umumnya
keluhan lainnya disertai rasa gatal, disuria dan edema genital dan lain-lain
(Irianto, 2015).
b) Tinjauan
kasus
Ibu
mengeluh mendapati keluar keputihan yang banyak, berwarna
kekuningan, berbau dan disertai gatal.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus
tersebut, tidak terdapat kesenjangan karena peneliti telah melakukan anamnesa
sehingga mengetahui bahwa dalam kasus Ny.T mengalami
masalah pada KB IUD yaitu Fluor Albus.
9)
Pola
kebutuhan sehari-hari
a) Pola
makan
(1) Tinjauan
teori
Pola
makan adalah gambaran tentang pasien mencukupi asupan gizinya selama usia subur beberapa hal yang kita perlu
tanyakan yang berkaitan dengan pola makan: diet karbohidrat seperti, nasi,
jagung, gandum, diet cukup protein seperti ikan, daging, telur serta kurangi
makanan yg tinggi akan garam.
(2) Tinjauan
kasus
Pada kasus ini Ny.T mengatakan
makan dengan porsi yang cukup.
(3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus
tersebut, tidak terdapat kesenjangan karena peneliti telah melakukan anamnesa
pada pola nutrisi ibu selama memberikan asuhan wanita usia subur sehingga mengetahui bahwa Ny. T makan
dengan gizi seimbang untuk mencukupi kebutuhan nutrisi saat usia subur.
b) Pola
istirahat
(1) Tinjauan
teori
Pola
istirahat adalah kebiasaan istirahat ibu baik malam maupun siang hari supaya
diketahui hambatan yang mungkin muncul jika didapatkan data yang senjang
tentang pemenuhan kebutuhan istirahat pola istirahat normal dimalam hari 6 - 8 jam
dan pada siang hari tidak semua wanita memiliki kebiasaan tidur siang oleh
karena itu dapat disampaikan pada ibu bahwa tidur siang sangat penting untuk
menjaga kesehatan selama usia
subur.
(2) Tinjauan
kasus
Dalam kasus ini Ny.T memiliki kebiasaan tidur 7 jam pada malam hari
dan siang selama 1 jam setiap hari.
(3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus
tersebut, tidak terdapat kesenjangan karena peneliti telah melakukan anamnesa
sehingga peneliti mengetahui bahwa Ny. T
memiliki kebiasaan tidur 7 jam pada malam hari dan siang selama 1 jam setiap
hari hal ini sesuai dalam buku Jenni, dkk, 2014. Normalnya tidur pada malam
hari ±8 jam dan tidur siang ± 1 jam.
2.
Data Objektif
1) Berat
badan
1)
Tinjauan teori
Data Indeks Massa Tubuh (IMT) diperoleh dengan cara
mengukur berat badan dan tinggi badan responden.
2)
Tinjuan kasus
Kunjungan
saat ini 55 kg
3)
Pembahasan
Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjaun
teori tidak terdapat kesenjangan karena kenaikan berat badan ibu sesuai dengan
teori yang ada.
2) Tanda-tanda
vital
1) Tekanan
darah
(a) Tinjauan
teori
Tekanan
darah tinggi sistol> 120 dan diastol > 80 Tinjauan kasus Setelah dilakukan pemeriksaan tekanan darah Ny. T
Didapati
hasil : 120/70 mmHg
(b) Pembahasan
Berdasarkan
tinjauan teori dan kasus, tidak terdapat kesenjangan karena tekanan darah ibu
tinggi dan merupakan adanya tanda preeklamsi, berdasarkan tinjauan teori Tekanan darah normal
sistol tidak > 120 dan diastol tidak < 60.
2) Nadi
(a) Tinjauan
teori
Nadi
normal 60 - 90 x/menit nadi diatas batas normal menunjukan
adanya infeksi
(b) Tinjauan
kasus
Setelah dilakukan pemeriksaan nadi Ny. T
Didapati
hasil : 75x/menit
(c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus, tidak
terdapat kesenjangan karena nadi Ny. T dalam
batas normal sesuai dengan teori yang ada bahwa nadi normal 60 - 90
x/menit nadi diatas batas normal menunjukan adanya infeksi
3) Pernafasan
(a) Tinjauan
teori
Pernafasan
20 - 30
x/menit
(b) Tinjauan
kasus
Setelah
dilakukan pemeriksaan pernafasan Ny. T
Didapati hasil
: 19 kali per menit
(c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori
dan kasus, tidak terdapat kesenjangan karena pernafasan Ny. T normal sesuai teori pernafasan normal yaitu 20 - 30
x/menit.
3) Kesadaran
1) Tinjauan
teori
Untuk
mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian
tingkat kesadaran mulai dari keadaan composmetris (keadaan maksimal) sampai
dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar)
2) Tinjauan
kasus
Hasil
pemeriksaan : Composmentis
3) Pembahasan
Berdasarkan
tinjauan kasus dan tinjaun teori tidak terdapat kesenjangan karena kesadaran
ibu dalam keadaan sadar.
4) Pemeriksaan
fisik
1) Muka
(a) Tinjauan
teori
Kelopak
mata ada edema atau tidak, konjungtiva merah muda atau pucat, sklera putih atau
tidak.
(b) Tinjauan
kasus
Setelah
dilakukan pemeriksaan pada Ny. T kelopak
mata tidak edema, konjungtiva merah muda, sklera putih.
(c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus
tidak terdapat kesenjangan karena sudah dilakukan pemeriksaan berdasarkan teori
yang ada dan hasil pemeriksaan Ny. T normal
2) Abdomen
(a)
Tinjauan teori
Melakukan
pemeriksaan mengalami kelainan atau tidak
(b)
Tinjauan kasus
Hasil
pemeriksaan : normal
(c)
Pembahasan
Berdasarkan
tinjauan teori dan kasus, tidak terdapat kesenjangan karena sudah dilakukan
pemeriksaan sesuai dengan teori.
3)
Ano genetalia
(a)
Tinjauan teori
Pemeriksaan
dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya varices, pembengkakan pada kelenjar
bartholini, infeksi dan keputihan.
(b)
Tinjauan kasus
Hasil
pemeriksaan pada Ny. T
didapati terjadi nya pengeluaran cairan berwarna putih kental seperti susu, dan pengeluaran dalam jumlah yang banyak.
(c)
Pembahasan
Berdasarkan
tinjauan teori dan tinjauan kasus terdapat
kesenjangan
pada Ny. T karena
terjadinya gejala fluor albus patologis.
4) Ekstremitas
a)
Tinajaun teori
Ekstremitas
dibagi menjadi bagian atas dan bawah melihat ada tidaknya odema, kelainan dan
varises
b)
Tinjauan kasus
Setelah
dilakukan pemeriksaan tidak terdapat odema pada bagian ekstermitas atas dan
bawah.
c)
Pembahasan
Berdasarkan
tinjauan teori dan kasus, tidak terdapat kesenjangan karena sudah dilakukan
pemeriksaan sesuai teori dan tidak terdapat tanda gejala yang menunjukan
komplikasi.
5) Pemeriksaan
labolatorium
(a)
Tinjauan teori
Dilakukan untuk skrining
komplikasi, meliputi Darah: Hb, leukosit, golongan darah, hematokrit, masa
pembekuan, masa perdarahan, hitung jenis leukosit. Urine : pemeriksaan fisik,
kimiawi, protein, reduksi, sedimen (astuti, dkk 2016).
(b) Tinjaun
kasus
Hasil pemeriksaan pada Ny. T tidak ada komplikasi.
(c)
Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan pada Ny. T
3.
Assesment
a. Tinjauan teori
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi
data secara benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah
atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan berdasarkan interpretasi yang
benar terhadap data dasar.
b. Tinjauan kasus
Diagnosa :
Ny T umur 31 tahun akseptor
KB IUD
Masalah :
Flour albus
Kebutuhan : Penanganan flour
albus dan
anjurkan bersihkan vulva dengan meminum
jus ananas comosus
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan
tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena data yang dibuat pada kasus sesuai dengan teori bahwa
interpretasi yang dilakukan dengan mengidentifikasi data secara
benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis
yang spesifik dapat ditemukan berdasarkan interpretasi yang benar terhadap data
dasar, sesuai dengan kasus didapatkan Diagnosa
: Ny. T umur 31 tahun
akseptor KB IUD , Masalah : Fluor albus disertai gatal, Kebutuhan : Penanganan flour
albus dan
anjurkan meminum jus ananas comosus.
4.
Planing
a. Tinjauan
teori
Setelah beberapa kebutuhan pasien ditetapkan,
diperlukan perencanaan secara menyeluruh terhadap masalah dan diagnosis yang
ada dalam proses perencanaan asuhan secara menyeluruh juga dilakukan
identifikasi beberapa data yang tidak lengkap agar pelaksaan secara menyeluruh
juga dilakukan identifikasi beberapa data yang tidak lengkap agar pelaksaan
secara menyeluruh dapat berhasil. (Hidayat, 2013).
Tahap ini juga merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik
terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan (Hidayat, 2013).
b. Tinjauan
kasus
a) Memberitahu
ibu hasil pemeriksaan yaitu :
TTV Tekanan
darah : 120/70 mmHg Nadi:
70 kali permenit
Respirasi : 19 kali per menit Suhu : 36,5oC
Terjadi pengeluaran per vaginam,
yaitu cairan berwarna kuning dan berbau amis.
Ibu sudah tahu hasil pemeriksaan
b) Jelaskan
keluhan yang ibu rasakan
Ibu merasakan mendapati keputihan
yang banyak, berbau dan gatal disekitar vagina, itu disebabkan oleh efek dari alat kontrasepsi IUD.
Ibu sudah Tahu penyebab keluhannya.
c) Jelaskan
cara penanganan keluhan ibu dengan ajarkan menjaga kebersihan vulva.
Memberitahu
pada ibu tentang personal hygiene yang benar dengan cara :Menjaga
kebersihan di daerah vagina dan sekitarnya, jangan menggunakan sabun yang
terlalu keras, atau pH nya basa. Biasakan membasuh vagina dengan cara yang benar,
yaitu dengan gerakan dari depan kebelakang. Hindari
suasana vagina lembab berkepanjangan karena pemakaian celana dalam yang basah,
jarang di ganti, tidak menyerap keringat, atau memakai celana jeans terlalu
ketat.
Ibu sudah mengerti cara penangan keluhannya.
d)
Anjurkan
ibu untuk meminum jus ananas comosus
Buah ananas comosus dapat
dikonsumsi menjadi jus untuk mengurangi keputihan dan dikonsumsi secara teratur
1 kali sehari selama 2 minggu dangan 100 gram
daging buah nanas dan bonggolnya dengan ditambahkan air 50 ml. Cara mengolah : siapkan 100 gram ananas
comosus yang telah masak dikupas, dicuci bersih, lalu di blender. Sewaktu
memblender tambahkan air sedikit demi sedikit hingga 50 ml. jus siap di minum 1 kali sehari selama 2
minggu.
Ibu sudah bersedia untuk minum jus ananas comosus.
e) Anjurkan
ibu kunjungan ulang setelah 2
minggu meminum
jus ananas comosus, untuk
mengetahui perkembangan dalam mengurangi gejala fluor albus yang ibu alami
Ibu bersedia kunjungan ulang.
f)
Setelah dilakukan kunjungan ulang pada
tanggal 17
Mei 2021, didapati keluhan flour albus
ibu berkurang setelah 2
minggu meminum jus ananas
comosus. Ibu mengatakan gatal yang dirasakan sudah jarang dan
sudah tidak berbau lagi.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan
tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena peneliti sudah memberikan asuhan sesuai teori meliputi
asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis atau laboratorium serta konseling untuk
tindak lanjut. Hal ini sesuai
dengan tinjauan teori dimana pelaksanaan merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik
terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan. Kemudian hasil evaluasi asuhan yang
didapatkan peneliti merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan sesuai
dengan teori yang menyatakan evaluasi merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan,
yakni dengan melakukan evaluasi dari perencanaan maupun pelaksanaan yang
dilakukan bidan (Hidayat, 2013).
BAB
V
PENUTUP
A.
Simpulan
Setelah
dilakukan Asuhan Kebidanan pada Wanita Usia Subur terhadap Ny. T dilakukan pada tanggal 3 Mei 2021 dan melakukan kunjungan ulang
pada tanggal 17 Mei
2021 maka dapat disimpulkan :
1.
Pada
pengumpulan data subjektif yang dilakukan pada Ny. T didapatkan hasil seperti Biodata
nama Ny. T,
umur 31 tahun akseptor KB IUD, keluhan ibu mendapati keputihan
berlebih, berbau amis dan disertai gatal sejak 7 hari yang lalu.
2.
Data
objektif didapatkan
hasil pemeriksaan tekanan darah 120/70 mmHg. Pemeriksaan pada anogenital terjadi pengeluaran
cairan berwarna kekuningan, berbau amis efek KB IUD.
3.
Penulis telah melakukan interpretasi data (Assesment) sehingga dapat ditegakkan bahwa Ny. T umur 31 tahun akseptor KB IUD dengan fluor albus. Penetapan kebutuhan yang memerlukan
penanganan pada Ny. T
umur 31 tahun akseptor KB IUD
yang mengalami fluor albus yaitu KIE Vulva Hygiene
dan anjurkan ibu untuk meminum jus Ananas
comosus.
4.
Planing
asuhan kebidanan secara menyeluruh pada wanita usia subur Ny. T umur 31 tahun akseptor KB IUD
yaitu di anjurkan melakukan terapi. Evaluasi asuhan kebidanan pada Ny. T umur 31 tahun akseptor KB IUD
telah di dapatkan hasil ibu
merasakan keluhan gejala flour albus berkurang yaitu pengeluaran cairan
lebih sedikit, tidak berbau dan gatal mulai jarang dirasakan setelah diberikan
asuhan selama 2 minggu
dalam laporan tugas akhir ini penulis telah mampu melakukan pendokumentasi
asuhan kebidanan yang telah dilakukan pada Ny. T umur 31 tahun akseptor KB IUD
dengan flour
albus, telah
didapatkan hasil dokumentasi yang lengkap.
B. Saran
1.
Bagi tempat penelitian
Agar hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk
mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan dalam memberikan asuhan
kebidanan pada wanita usia subur yang mengalami flour albus.
2.
Bagi
penulis selanjutnya
Penulis
mengharapkan agar penulis selanjutnya dapat mengembangkan wawasan dan ilmu
pengetahuan dalam melakukan asuhan kebidanan pada masa wanita usia
subur terutama terhadap gejala fluor albus sehingga tidak menimbulkan masalah
kesuburan pada wanita.
3.
Bagi
Institusi Pendidikan
Dengan
diterapkannya Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat menyelesaikan
pendidikan mahasiswa dapat memberikan asuhan kebidanan yang bermutu dan
berkualitas saat berada dilahan praktik sehingga mahasiswa dapat menyampaikan
dan membahas antara teori dengan praktik yang sudah didapatkan selama menempuh
pendidikan kebidanan.
4.
Bagi
Pasien dan masyarakat
a. Bagi pasien
Diharapkan pasien dapat melakukan pencegahan komplikasi pada
wanita usia
subur dengan fluor albus patologis dengan cara merawat
kebersihan diri (Personal hygiene) secara baik dan benar serta dapat menerapkan asuhan yang
telah diberikan oleh bidan atau tenaga kesehatan.
b. Bagi masyarakat
Diharapkan masyarakat dapat melakukan pemeriksaan ke
tenaga kesehatan
secara rutin serta dapat menerapkan asuhan yang telah diberikan oleh bidan atau
tenaga kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Alpin Setyowati,
Dewanitya Wulansari. 2015. Hubungan
Penggunaan Alat Kontrasepsi IUD dengan Flour Albus pada Ibu Usia 25 – 44.
Jurnal Kebidanan Dharma Husada, 4(1), 2 0- 24.Andrianto, Catur. 2013. Tips Memilh dan Menyimpan Buah – buahan.
Bahari, Hamid.
2019. Cara Mudah Atasi Keputihan.
Jogjakarta: BUKU BIRU. Yogyakarta: Suaka Medika.
Fatmawati. 2017. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan
Alat Kontrasepsi Pada Wanita Usia Subur. Jurnal Ilmiah Kesehatan Iqra,
V(1), 1 – 8.
Gusti Ayu Marhaeni.
2016. Keputihan Pada Wanita. Jurnal
Skala Husada, 13(1), 30 – 38.
Mustika
Ratnaningsih Purbowati, Dyah Retnani. 2015. Pengaruh
Penggunaan IUD terhadap Penyakit Keputihan. Jurnal Ilmiah Ilmu – Ilmu
Kesehatan, 13(3), 20 – 28
Notoatmojo, S.
2014. Metodeologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Penerbit PT Renika Cipta.
Rani Pratama, Dwita
Oktaria. 2016. Efektifitas Intra Uterine Device (IUD) Sebagai Alat Kontrasepsi.
MAJORITY, 5(4), 138 – 141.
Riyanti Lubis, Eva.
2020. Hujan Rezeki Budidaya Nanas.
Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Sofia
Mawaddah. 2019. Efektifitas Jus Nanas
Terhadap Keputihan (Flour Albus) pada Wanita Usia Subur. Jurnal Kesehatan, 10(3),
367 – 373.
LAMPIRAN
Komentar
Posting Komentar